Bagikan Berita/artikel ini
centralberitarakyat.com, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat tidak hanya bisa diukur dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari kemampuan mengatur pengeluaran. Menurutnya, negara harus hadir untuk memastikan rakyat bisa hidup layak dengan biaya yang terjangkau.
“Saya selalu katakan, kalau mau membangun kemakmuran rakyat itu jangan dulu bicara soal peningkatan pendapatan. Yang lebih penting adalah bagaimana rakyat sedikit mengeluarkan uangnya,” ujar Dedi Mulyadi dalam sebuah pertemuan bersama menteri, wali kota, dan bupati di Jawa Barat.
Dedi mencontohkan pengalamannya semasa kecil di desa. Meski sang ibu harus mengurus sembilan anak, kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi. “Kenapa bisa? Karena dulu ibu-ibu pandai mengatur rumah tangga dengan sedikit pengeluaran. Cukup ada beras dan garam, hidup sudah tenang,” ungkapnya.
Namun kondisi sekarang, lanjutnya, berbeda. “Hari ini, kalau enggak punya kuota internet, orang jadi enggak tenang. Enggak bisa keluar malam, enggak tenang. Ada problem gaya hidup yang muncul di masyarakat kita,” kata Gubernur Jabar.
Menurut Dedi, salah satu masalah yang dihadapi kelas menengah bawah adalah keinginan untuk bergaya seperti kelompok yang lebih mapan. Demi terlihat setara, banyak yang berani berutang dan mengorbankan kebutuhan pokok.
Ia pun mengingatkan para pejabat agar tidak ikut mendorong perilaku konsumtif dengan pamer kemewahan. “Pejabat itu tidak boleh flexing. Jangan posting sedang belanja di Singapura atau makan di restoran mewah. Walaupun pakai uang sendiri, itu bisa memicu obsesi masyarakat untuk meniru, padahal mereka belum mampu,” tegasnya.
Fenomena flexing pejabat, menurut Dedi, berpotensi memperburuk pola konsumsi masyarakat. “Sekarang banyak kelas menengah bawah yang lebih sering makan di luar daripada masak di rumah, karena terobsesi dengan gaya hidup yang mereka lihat,” katanya.
Dedi Mulyadi menekankan, pejabat publik harus memberi teladan sederhana. “Kalau rakyatnya masih berjuang untuk makan, jangan sampai pemimpinnya justru memamerkan kemewahan. Kita harus fokus bagaimana rakyat bisa hidup hemat tapi tetap sejahtera,” pungkasnya.
(NW)