Bagikan Berita/artikel ini
DEPOK| centralberitarakyat.com – Pagi baru saja dimulai di Pasar Cibinong. Di tengah lalu lalang pedagang dan pembeli, seorang pria berusia 60 tahun tampak duduk sederhana sambil menikmati semangkuk bubur di sela aktivitasnya mencari nafkah. Di sampingnya tersimpan termos kopi dan perlengkapan dagangan yang setiap hari menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Pria itu adalah Ahmad Seru Pasaribu, warga Kampung Babakan RT 03/RW 02, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Kota Depok. Selama kurang lebih 20 tahun, Ahmad menggantungkan hidup keluarganya dari hasil berjualan kopi keliling.
Saat diwawancarai CentralBeritaRakyat.com di Pasar Cibinong, Sabtu (30/5/2026) pukul 07.23 WIB, Ahmad tampak tenang menyantap bubur sederhana sebelum kembali menawarkan kopi kepada para pelanggan. Namun suasana berubah haru ketika ia mulai menceritakan perjalanan hidup yang dijalaninya selama puluhan tahun.
Air mata perlahan menetes dari wajahnya saat mengenang berbagai kesulitan yang harus dihadapi demi keluarga.
“Saya berjuang untuk keluarga. Tiga anak saya harus tetap makan dan punya masa depan. Dari jualan kopi inilah saya membesarkan mereka,” kata Ahmad dengan suara bergetar.
Setiap hari Ahmad berpindah-pindah tempat mencari pelanggan. Terkadang ia berjualan di kawasan Pasar Cibinong, terkadang di sekitar Pekansari dan sejumlah titik keramaian lainnya. Tidak ada tempat tetap baginya untuk mencari rezeki.
“Saya sering pindah-pindah. Kadang di pasar, kadang di Pekansari. Yang penting bisa dapat rezeki untuk keluarga,” ujarnya.
Cobaan hidup Ahmad semakin berat dalam dua tahun terakhir setelah sang istri mengalami stroke. Kondisi tersebut membuatnya harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pengobatan istrinya.
Di usia yang tidak lagi muda, Ahmad tetap memilih bertahan. Baginya, keluarga adalah alasan untuk terus melangkah meski kondisi fisik tidak sekuat dulu dan penghasilan yang diperoleh tidak selalu mencukupi kebutuhan rumah tangga.
“Saya hanya ingin istri saya bisa terus berobat dan anak-anak saya hidup lebih baik dari saya,” tuturnya sambil menyeka air mata.
Kisah Ahmad menjadi gambaran nyata perjuangan masyarakat kecil yang terus berusaha bertahan di tengah keterbatasan ekonomi. Secangkir kopi yang dijualnya bukan sekadar dagangan, melainkan harapan untuk keluarga yang menantinya di rumah.
Melihat kondisi yang dialami Ahmad, perhatian dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Depok, diharapkan dapat hadir untuk membantu warga yang sedang berjuang menghadapi persoalan ekonomi dan kesehatan keluarga. Bantuan sosial, akses pengobatan, maupun program pemberdayaan usaha mikro dapat menjadi harapan bagi Ahmad dan keluarganya untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.
Di balik semangkuk bubur yang disantapnya pagi itu, tersimpan kisah seorang ayah yang tak pernah menyerah. Selama 20 tahun ia berkeliling menjual kopi, menghadapi kerasnya kehidupan dengan satu harapan sederhana: keluarganya tetap bisa bertahan dan memiliki masa depan yang lebih baik.
(FH)