Bagikan Berita/artikel ini
Washington DC| centralberitarakyat.com –
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkap hasil pertemuan bilateralnya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela agenda Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian untuk Gaza. Dalam pertemuan tersebut, isu perdagangan dan tarif menjadi pokok pembahasan utama.
Prabowo menyebut, negosiasi dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat telah berlangsung cukup panjang sebelum akhirnya mencapai kesepahaman yang dinilai saling menguntungkan.
“Ya kita bahas masalah perdagangan di antara kedua negara. Perundingan sudah cukup lama, akhirnya ketemu saling menguntungkan, saling menghormati. Saya kira bagus,” ujar Prabowo di Washington DC, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, Indonesia termasuk negara yang menjalani proses negosiasi tarif paling lama dengan Amerika Serikat. Namun, hasil akhirnya dinilai positif dan konstruktif bagi kedua belah pihak.
“Intinya itu, kita termasuk yang mungkin paling lama berunding soal tarif perdagangan. Tapi bagus hasilnya,” tegasnya.
Satu-satunya Pertemuan Bilateral di Tengah Agenda BoP
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa di tengah kehadiran lebih dari 15 kepala negara dan pemerintahan dalam forum BoP, hanya Prabowo yang menggelar pertemuan bilateral khusus dengan Trump.
“Bapak Presiden melakukan bilateral dengan Presiden Donald Trump. Dari lebih 15 kepala negara yang hadir, satu-satunya yang melakukan pembahasan tarif secara khusus adalah Presiden Prabowo,” jelas Teddy dalam keterangan persnya.
Ia menambahkan, usai penandatanganan kesepakatan, kedua pemimpin melanjutkan pembahasan dalam sesi tertutup untuk memperdalam detail kerja sama perdagangan.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya posisi tawar Indonesia dalam percaturan ekonomi global, khususnya dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat.
12 Pengusaha AS Antusias Investasi
Tak hanya bertemu Trump, Prabowo juga menggelar diskusi dengan 12 pengusaha besar Amerika Serikat di Washington DC. Dalam pertemuan tersebut, para pelaku usaha disebut menunjukkan minat kuat untuk memperluas investasi di Indonesia.
“Mereka sangat tertarik dengan Indonesia.
Mereka confident, melihat iklim investasi kita membaik, dan sangat positif terhadap ekonomi kita,” ungkap Prabowo.
Teddy menjelaskan, sejumlah pengusaha tersebut sebelumnya telah memiliki kerja sama dengan Danantara Indonesia, sehingga komunikasi dan penjajakan investasi berjalan lebih cepat dan konkret.
Pertemuan ini mempertegas optimisme investor global terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Dengan tercapainya titik temu tarif dagang serta meningkatnya minat investasi, hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat diproyeksikan memasuki babak baru yang lebih strategis dan saling menguntungkan
(NW)