Bagikan Berita/artikel ini
Depok | centralberitarakyat.com – Peristiwa Isra dan Mi’raj tidak sekadar menjadi catatan monumental perjalanan Rasulullah SAW, tetapi merupakan momentum agung yang sarat dengan pesan keimanan, risalah, serta penguatan spiritual umat Islam. Di tengah tantangan zaman yang diwarnai krisis iman dan degradasi moral, Isra Mi’raj hadir sebagai pengingat kuat untuk kembali menegakkan Salat sebagai pilar utama kehidupan beragama.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ustadz H. Syahruddin El Fikri, Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara sekaligus pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah, dalam kajian rutin Kamis di Masjid Jauharatul Jannah, RS Permata Depok, Kamis (15/1/2026).

Menurut Ustadz Syahruddin, Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan yang sangat nyata. Saat peristiwa itu disampaikan Rasulullah SAW, kaum Quraisy justru mendustakannya. Sebaliknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menerima dan membenarkan tanpa sedikit pun keraguan, hingga dianugerahi gelar Ash-Shiddiq.
“Isra Mi’raj tidak cukup dipahami dengan logika semata. Ia harus diterima dengan iman. Di sinilah Allah SWT membedakan antara orang yang beriman dan orang yang ingkar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peristiwa Isra Mi’raj melintasi tiga alam, yakni alam dunia (nasut), alam malaikat (malakut), dan alam keagungan Ilahi (lahut). Dalam peristiwa Isra, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha secara nyata dengan menaiki Buraq, menegaskan bahwa Isra terjadi secara hakiki, bukan sekadar mimpi.
Sementara dalam peristiwa Mi’raj, Rasulullah SAW menembus langit demi langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Pada titik tertinggi tersebut, Malaikat Jibril ‘alaihissalam tidak dapat melanjutkan perjalanan, yang menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan kedudukan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT.
“Mi’raj adalah perjalanan untuk menerima perintah Salat secara langsung dari Allah SWT. Inilah yang menjadikan Salat sebagai ibadah paling istimewa dibandingkan ibadah lainnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Syahruddin menegaskan bahwa Salat merupakan mi’rajnya orang-orang beriman, penghubung langsung antara hamba dengan Allah SWT, sekaligus penentu kualitas amal seorang Muslim. Salat menjadi fondasi utama ibadah, pembentuk akhlak, serta penyangga peradaban.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ”
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
“Jika Salat ditegakkan dengan benar, maka ia akan membentuk akhlak, menjaga perilaku, dan melindungi kehidupan seorang hamba dari kerusakan,” jelasnya.
Ustadz Syahruddin juga menegaskan bahwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat Isra Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra ayat 1 melalui frasa asrā bi‘abdihī, yang menunjukkan keutuhan jasad dan ruh Rasulullah SAW. Pendapat yang menyatakan Isra Mi’raj hanya berupa mimpi dinilai sebagai pandangan minoritas dan lemah dari sisi dalil.
Peristiwa Isra Mi’raj diyakini terjadi pada malam 27 Rajab, sebelum hijrah ke Madinah, tepat setelah Rasulullah SAW mengalami ‘Amul Huzn—tahun penuh duka. Karena itu, Isra Mi’raj juga menjadi penghibur, penguat jiwa, dan peneguh risalah Nabi SAW di tengah beratnya tantangan dakwah.
“Pesan Isra Mi’raj sangat jelas. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi penguat iman dan risalah. Salat ditegaskan sebagai fondasi ibadah, akhlak, dan peradaban. Siapa yang menjaga Salatnya, insyaAllah hidupnya akan dijaga oleh Allah SWT,” pungkasnya.
(NW)
