Bagikan Berita/artikel ini
Depok| centralberitarakyat.com – Pengelolaan limbah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cilodong 2, Kota Depok, menjadi sorotan setelah beredarnya dokumentasi yang menunjukkan sisa makanan dikumpulkan dalam kantong plastik dan ditempatkan di area terbuka. Fasilitas ini merupakan bagian dari program Badan Gizi Nasional. Kamis (2/4/2026).
Dalam dokumentasi tersebut, terlihat sisa makanan seperti mie dan sayuran yang tidak terpakai. Penempatan limbah di atas kursi plastik memunculkan pertanyaan terkait penerapan standar kebersihan di dapur layanan publik yang seharusnya memiliki prosedur sanitasi ketat.

Kepala Dapur SPPG Cilodong 2, Ryan, mengatakan sisa makanan tersebut bersifat sementara. “Sisa makanan itu memang dikumpulkan sementara, nanti sore juga akan diambil oleh petugas sampah sesuai jadwal,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ryan juga menyebut fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) telah tersedia dan digunakan. Namun, ketika tim investigasi menanyakan lebih lanjut mengenai kapasitas IPAL dan ke mana aliran limbah dibuang, penjelasan rinci belum disampaikan di lokasi.
Temuan di lapangan menunjukkan, saat proses pencucian ompreng (wadah makanan), air bekas cucian terlihat mengalir melalui sela-sela teralis besi yang memiliki celah. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa sebagian limbah cair tidak sepenuhnya masuk ke dalam sistem pengolahan.
Sejumlah pengamat menilai, keberadaan fasilitas IPAL perlu diikuti dengan transparansi operasional. “Bukan hanya tersedia, tetapi bagaimana aliran limbah benar-benar terkelola sesuai standar. Jika ada kebocoran atau aliran terbuka, perlu ada penjelasan dan evaluasi,” ujar seorang pengamat kebijakan publik.
Selain itu, volume sisa makanan yang terlihat juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas distribusi dalam program pemenuhan gizi.
Penyesuaian antara jumlah produksi dan tingkat konsumsi dinilai penting untuk menghindari pemborosan.
Program yang dijalankan Badan Gizi Nasional diharapkan tidak hanya memenuhi aspek ketersediaan makanan, tetapi juga memastikan standar kebersihan, keamanan pangan, serta pengelolaan limbah
yang sesuai ketentuan.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak terkait mengenai temuan tersebut. Evaluasi menyeluruh dinilai penting agar pelaksanaan program tetap berjalan optimal dan akuntabel di lapangan.
(Fakih/Red)
