Bagikan Berita/artikel ini
Bekasi | centralberitarakyat.com — Suasana Sabtu pagi (15/11/2025) di SDN Jatikramat 6, Jalan Jatikramat RT 07 RW 04, Kelurahan Jatikramat, Kecamatan Jatiasih, berubah total. Sekolah yang biasanya tenang mendadak dipenuhi tawa, sorakan, dan tepuk tangan ratusan siswa. Semua mata tertuju pada sosok pendongeng nasional Kak Harris, atau Harris Rizki, yang hadir untuk mengisi kegiatan Pengarahan Kenakalan Anak Melalui Dongeng.
Kehadirannya langsung menjadi magnet perhatian. Dengan gaya khas, ekspresi hidup, dan pertanyaan interaktif, Kak Harris sukses membawa siswa masuk ke dunia imajinasi tanpa terasa seperti sedang mengikuti penyuluhan. “Semua orang pernah nakal, tapi semua anak bisa jadi lebih baik,” ujarnya membuka sesi, disambut antusias para siswa.
Dongeng “Raka dan Tiga Peringatan Langit” Bikin Anak-anak Terhipnotis
Cerita utama berjudul Raka dan Tiga Peringatan Langit menjadi puncak acara. Kisah tentang anak yang kerap berbuat nakal ini disampaikan dengan dialog lucu, aksi teatrikal, dan suara-suara unik yang membuat siswa seperti menonton film secara langsung. Mereka tertawa, terkejut, dan ikut larut dalam pesan moral yang disampaikan tanpa menggurui.
Antusiasme memuncak saat boneka Ayis ikon pendamping Kak Harris tiba-tiba muncul di tengah pertunjukan. Boneka mungil dengan suara imut itu sukses membuat anak-anak pecah dalam tawa, namun tetap merenung saat Ayis membahas pentingnya meminta maaf, menghargai teman, menjaga kebersihan, hingga berani menolak ajakan buruk.
“Kalau Ayis salah dan minta maaf, kalian mau nggak minta maaf kalau berbuat salah?” tanya Ayis. Serentak seluruh siswa menjawab lantang, menciptakan momen haru yang membuat guru dan orang tua tersenyum bangga.
Guru dan Orang Tua Terharu: “Anak-anak Fokus Tanpa Disuruh”
Suryani, guru SDN Jatikramat 6, mengaku takjub melihat siswa yang biasanya sulit duduk diam, justru begitu fokus dari awal hingga akhir. Menurutnya, dongeng mampu menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan dunia anak zaman sekarang yang lebih menyukai visual dan interaksi.
Wali murid, Endang, juga tak kalah terkesan. Ia menyatakan bahwa pesan moral sering kali sulit diterima jika disampaikan langsung oleh orang dewasa. “Tapi lewat Ayis, anak-anak jadi terbuka dan mau menerima nasihat dengan hati gembira,” ujarnya.
Refleksi Jujur dan Momen Haru
Di akhir acara, Kak Harris mengajak siswa melakukan refleksi singkat. Mengejutkan, banyak siswa yang berani mengakui kenakalan kecil yang pernah mereka lakukan mulai dari berkata kasar, malas belajar, hingga membuang sampah sembarangan. Suasana yang hangat dan emosional itu berakhir dengan satu janji: mereka ingin berubah menjadi lebih baik.
Para guru melihat momen tersebut sebagai bukti bahwa penyampaian pesan moral lewat dongeng jauh lebih efektif daripada metode ceramah.
Dongeng, Media yang Tak Lekang oleh Zaman
Kegiatan ini kembali menegaskan bahwa dongeng tetap relevan di era digital. Anak-anak yang sehari-hari bergelut dengan gadget ternyata masih membutuhkan cerita, tokoh, dan imajinasi untuk memahami nilai kebaikan.
“Dongeng itu jembatan hati,” ujar Kak Harris. Menurutnya, anak-anak lebih mudah menerima pesan jika disampaikan melalui humor, emosi, dan cerita yang dekat dengan dunia mereka.
Berburu Foto dengan Ayis dan Kenangan yang Tak Akan Hilang
Setelah pertunjukan usai, ratusan siswa langsung mengantre untuk berfoto dengan Kak Harris dan boneka Ayis. Wajah-wajah ceria terlihat di sepanjang barisan. Ada yang memeluk Ayis, ada yang menirukan suaranya, ada pula yang berjanji akan menjadi anak baik mulai hari ini.
Pendidikan Karakter Bisa Menyenangkan
Kegiatan di SDN Jatikramat 6 membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus kaku dan penuh aturan. Dengan pendekatan kreatif, anak-anak belajar dari hati, bukan karena takut dihukum.
Sabtu itu menjadi hari yang tak terlupakan: hari ketika dongeng menjadi guru, boneka menjadi sahabat, dan perubahan menjadi hal yang menyenangkan. Hari yang mengingatkan semua yang hadir bahwa pendidikan terbaik adalah yang mendekatkan hati bukan yang menakut-nakuti.
(NW)