Bagikan Berita/artikel ini
centralberitarakyat.com, Depok – Rasa kecewa bercampur pilu menyelimuti sekitar 140 karyawan PT Triple Ace, perusahaan kosmetik legendaris yang berdiri sejak 1972 di Curug, Cimanggis, Kota Depok. Sudah 14 bulan mereka bekerja tanpa menerima gaji. Kamis (14/8/2025), para pekerja menggelar aksi demonstrasi menuntut hak yang belum dibayarkan.
Awalnya, pihak manajemen dan perwakilan karyawan telah menyepakati pembayaran 30% pesangon sebagai uang muka, sisanya menyusul. Namun, janji itu tak ditepati. “Kami sangat menyayangkan sikap perusahaan yang mengingkari kesepakatan dengan alasan belum ada uang,” tegas Rizal, perwakilan karyawan.
Enam Tuntutan Karyawan
Dalam aksinya, pekerja membawa enam tuntutan utama:
1. Pembayaran tunggakan gaji selama 14 bulan.
2. Pelunasan iuran BPJS Ketenagakerjaan yang tertunggak 22 bulan.
3. Pembayaran THR tahun 2025.
4. Tunggakan uang makan harian, uang makan puasa, uang lembur, dan uang cuti tahunan.
5. Penyelesaian hak karyawan yang telah meninggal dunia.
6. Pembayaran pesangon secara massal.
Hari itu juga, mediasi ulang kembali digelar antara pihak perusahaan dan karyawan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada titik temu.
Mediasi Berlarut, Janji Dilanggar
Dinas Tenaga Kerja Kota Depok mengaku sudah empat kali memfasilitasi pertemuan kedua pihak. “Pada mediasi ketiga sebenarnya sudah ada kesepakatan, tapi lagi-lagi pengusaha mengingkarinya. Kami menghimbau agar masalah ini segera diselesaikan agar tidak timbul masalah baru,” ujar Wildan dari Disnaker Depok.
Jeritan Pekerja: “Kami Harus Teriak ke Siapa Lagi?”
Suparsih, salah satu karyawati, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan derita rekan-rekannya. “Bayangin, 14 bulan kerja tanpa gaji. Keluarga butuh makan. Banyak yang jatuh sakit, bahkan meninggal. Ada yang diusir dari kontrakan karena nggak bisa bayar. Tolong, Pak Wamenaker, bantu kami!” serunya dengan suara bergetar.
PT Triple Ace, yang selama 53 tahun dikenal sebagai produsen kosmetik, kini tengah menuai sorotan publik. Kasus ini bukan sekadar soal uang, tapi juga soal keadilan bagi para pekerja yang telah mengabdikan diri puluhan tahun.
(NW)