Bagikan Berita/artikel ini
Abu Dhabi | centralberitarakyat.com, Upaya Indonesia dalam menyelamatkan gajah sumatra kembali mendapat sorotan dunia. Melalui panel bergengsi di ajang IUCN World Conservation Congress 2025, Belantara Foundation bersama Universitas Pakuan menggaungkan pendekatan “koeksistensi” atau hidup berdampingan harmonis antara manusia dan gajah sumatra, sebagai strategi mitigasi konflik yang lebih berkelanjutan.
Panel diskusi bertajuk “A Conservation Partnership Fighting to Protect Biodiversity in Asia” ini digelar di Asia Pavilion, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Sabtu (11/10/2025). Kegiatan tersebut diinisiasi oleh organisasi konservasi asal Amerika Serikat, Conservation Allies, yang menghadirkan mitra-mitranya dari berbagai negara di Asia, termasuk India, Bhutan, Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Belantara Foundation bersama Universitas Pakuan membawakan presentasi berjudul “Coexistence in the Making: From Human–Elephant Conflict to Harmony in Industrial Landscape” atau “Mengupayakan Koeksistensi: Dari Konflik Gajah Menuju Harmoni di Lanskap Industri”.
Populasi Gajah Sumatra Terus Menurun Drastis
Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus dosen Universitas Pakuan, Dr. Dolly Priatna, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penurunan drastis populasi gajah sumatra yang kini berstatus Critically Endangered atau kritis menurut daftar merah IUCN.
“Sejak 1980-an, populasi gajah sumatra diperkirakan menurun dari sekitar 4.800 menjadi hanya 900-an individu pada 2019. Ini alarm serius bagi konservasi,” ujarnya.
Menurutnya, penyebab utama penurunan populasi adalah alih fungsi lahan, perburuan liar, dan meningkatnya konflik antara manusia dan gajah akibat berkurangnya habitat alami.
Lanskap Sugihan–Simpang Heran Jadi Fokus Upaya Koeksistensi
Salah satu fokus utama Belantara Foundation adalah Lanskap Sugihan–Simpang Heran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan — rumah bagi sekitar 100–120 individu gajah liar yang hidup di ekosistem rawa gambut dan mangrove.
“Lanskap ini penting tapi rentan. Kawasan seluas 700 ribu hektar ini didominasi hutan tanaman industri, perkebunan sawit, hingga pemukiman masyarakat. Ini membuat ruang jelajah gajah semakin sempit,” terang Dolly.
Belantara bersama mitra berupaya mendorong pendekatan koeksistensi berbasis kolaborasi, dengan mengoptimalkan koridor ekologis antar kelompok gajah, membangun menara pemantauan, menyediakan artificial saltlicks (tempat garam buatan), hingga edukasi dini kepada anak-anak di sekitar kawasan.
“Solusi jangka panjang hanya bisa tercapai bila semua pihak—pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, dan media—bekerja bersama membangun harmoni manusia dan gajah,” tambahnya.
Dukungan Global untuk Konservasi Indonesia
Presiden Conservation Allies, Dr. Paul Salaman, menyatakan komitmen penuh mendukung program Belantara Foundation.
“Panel ini kami dedikasikan untuk menyoroti upaya konservasi di Asia. Kami siap mendukung Belantara melalui hibah, penggalangan dana global, dan peningkatan kapasitas lapangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh dana akan dikelola secara transparan dan dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan konservasi di lapangan.
Apresiasi Pemerintah Indonesia
Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Agr.Sc, yang hadir dalam sesi panel tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas kemitraan antara Belantara Foundation dan Conservation Allies.
“Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam melindungi gajah sumatra, yang termasuk satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.106/2018 dan terdaftar di CITES Appendix I,” ujarnya.
Prof. Satyawan berharap pendekatan koeksistensi dapat menjadi model nasional dalam meminimalkan konflik manusia-gajah.
“Dari konflik menuju harmoni — inilah visi konservasi modern yang harus terus kita dorong,” pungkasnya.
Tentang Belantara Foundation
Belantara Foundation adalah organisasi nirlaba independen yang berdiri sejak 2014. Berbasis di Indonesia, lembaga ini berfokus pada konservasi hutan, perlindungan satwa liar, dan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan di Sumatra dan Kalimantan.
Pada November 2024, Belantara resmi menjadi anggota International Union for Conservation of Nature (IUCN). Informasi lebih lanjut dapat diakses di www.belantara.or.id.
(NW)